Algoritma Perpecahan: Media Sosial, Hoaks, dan Bara Konflik
Media sosial, yang awalnya dirancang sebagai jembatan konektivitas global, kini kerap menjadi lahan subur bagi penyebaran informasi palsu atau hoaks. Fenomena ini tidak hanya mengikis kepercayaan publik, tetapi juga menjadi pemicu serius konflik sosial yang mengancam keharmonisan.
Penyebaran Hoaks yang Mematikan
Kecepatan dan jangkauan tanpa batas adalah kekuatan sekaligus kelemahan media sosial. Algoritma yang cenderung menyajikan konten sesuai preferensi pengguna (filter bubble) memperparah keadaan, menciptakan gema ruang di mana narasi hoaks semakin mengakar tanpa verifikasi. Informasi yang sensasional dan membangkitkan emosi, seringkali tanpa dasar fakta, lebih mudah viral dan dipercayai, mengesampingkan nalar kritis.
Dari Hoaks Menuju Konflik Nyata
Dampak hoaks terhadap konflik sosial sangat nyata. Berita palsu yang memuat isu SARA (Suku, Agama, Ras, Antargolongan), politik, atau provokasi, mampu memecah belah masyarakat. Ini memicu polarisasi ekstrem, menumbuhkan kebencian, bahkan berujung pada tindakan kekerasan atau demonstrasi yang tidak terkendali. Kepercayaan antarindividu dan kelompok terkikis, membuat masyarakat rentan terhadap adu domba dan provokasi yang berujung pada perpecahan.
Menjaga Nalar di Tengah Badai Informasi
Melihat ancaman ini, peran media sosial sebagai agen penyebar hoaks dan konflik tidak bisa diabaikan. Dibutuhkan kesadaran kolektif untuk meningkatkan literasi digital, kemampuan berpikir kritis dalam menyaring informasi, serta tanggung jawab dari platform media sosial untuk lebih proaktif memerangi disinformasi. Hanya dengan upaya bersama kita dapat menjaga ruang digital agar tetap produktif dan tidak menjadi jurang perpecahan.
